Hujan dan Rindu
Hujan kembali mengguyur bumi pertiwi. Ia datang tak sendirian, namun bersama rekannya yang bernama petir. Di siang hari yang seharusnya mentari tertawa riang, kini ia tak lagi menampakkan wajah riangnya, ia terkalahkan oleh putihnya awan yang menyelimuti langit dan derasnya air yang turun membasahi bumi. Bersama rintik hujan yang datang, rasa rindu pun tak bisa tertahan, ia seakan menguasai perasaan yang tak dapat ku tahan lagi. Beberapa kali ku mencoba menahan, beberapa kali ku katakan bahwa ini hanya tentang waktu, tentang perjalanan dan tentang perjuangan. "Ahhh, rupanya aku terlalu merindu". Sesaat, aku selalu mengalihkan perasaan itu dengan aktivitas yang biasa ku lakukan, meski ku tau ini bukanlah cara menyelesaikan rasa yang tepat untuk kerinduan ini. Namun, lagi dan lagi Aku harus menjalani agar ku dapat sedikit mengalihkan rasa rindu yang amat mendalam.
Suara petir yang terus bergeming membuat perasaan ini semakin tumbuh dalam hati, seperti tertusuk duri, perih. Tetapi apalah daya, aku hanya mampu menahan dan mengalihkan rasa yang semakin menggunung. Seketika itu pula, air mata pun tak dapat lagi terbendung, perlahan mulai menetes membasahi pipi yang kering. "Rindu yang terlalu cepat datang, cepat pula kau menguasai hatiku" ujarku dalam hati.
Cinta yang merubah keadaan, dan hujan yang menambah porsi rindu. Hujan Dan rindu seakan menjadi satu bagian cinta, karena mereka datang bersama tanpa undangan. Kali pertama aku dan kamu bertemu dalam cinta, saat itu pula hujan hadir membersamai alunan nada-nada indah perkata kita. Sebab itu mengapa aku selalu ingat tentangmu dan merindu kala hujan turun. "Kau tau?" Bagiku kau adalah surga, tempat kebahagian tercipta, tempat berlabuhku untuk yang terakhir kalinya, dan tempat untuk peraduan abadiku. Dalam hati yang tiada menentu, Aku selalu berharap kau ada disisiku. Bukan maksud hati untuk memenjarakan lepasmu, tapi bagiku memberi kabar dimana letakmu adalah pelerai segala gundahku.
Hujan masih menderas, pun ingatanku masih tertuju tentangmu. Bagiku, hujan adalah rindu, rindu tanpa kata-kata. Kini, hanya dapat ku ingat wajahmu sesaat, karena ku tau kau kan kembali. Ku titipkan dirimu pada Tuhan-ku, agar ku tau bahwa yang ku titipkan akan baik baik saja bersama ribuan langkah untuk dapat terjamah oleh tangan kecil ini.Banyuwangi, 02 Desember 2018
Ditulis dengan rasa rindu bersama derasnya hujan.
~Dona Lutfia Sari~
Komentar
Posting Komentar