"Aku Mau Ngobrol Sama Kamu"

Kala itu, sore hari saat senja tak lagi menampakkan wajahnya, tepat dua sejoli sedang duduk bersama selingkar meja dengan secangkir kopi yang asik untuk dinikmati. "Mas, seandainya nanti orang-orangku mempersulit hubungan kita, apa kamu masih mau untuk memperjuangkannya? Apa kamu serius dengan apa yang kita jalani saat ini?  Lalu, bagaimana jika nanti mereka bertanya tentang pendidikan dan karirmu?" begitu pertanyaan yang terlontar dari Ias (si cewek). Sontak, keheningan terjadi ditengah-tengah mereke berdua, dan kopi pun dirasa perlu untuk diseruput. Sesaat setelah itu, Dika (si cowok)  menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ias. "Orang-orangmu adalah mereka yang patut untuk kita sayangi, hormati, dan berbakti pada mereka. Maka sewajarnya Aku akan memperjuangkanmu dengan baik dengan tidak meninggalkan luka pada mereka, kelak Aku yakin akan ada restu dari keduanya. Perjuangan memang perlu, karena meng'iya'kan untuk berumah tangga bukanlah suatu permainan yang saat bosan atau rusak akan dibuang begitu saja, tetapi disitu ada amanah Tuhan yang harus kau pahami dan jalani. Maka wajar, ketika orang-orangmu (keluargamu) mungkin sedikit mempersulit seperti yang Kau rasa, karena mereka juga pasti membutuhkan yang terbaik untuk putrinya. Tetapi aku tidak akan menyerah untuk itu, tidak perlu lah Kau meragukan itu, keyakinan itu sudah tumbuh dalam hati, Kau hanya perlu menunggu tepat waktu di waktu yang tepat nanti. Tak usahlah Kau tanyakan tentang keseriusan ini lagi, Aku sudah meyakinimu untuk generasiku kelak. Dan ingatlah, rejeki seseorang itu sudah ditakdirkan jauh beribu-ribu tahun sebelum Ia dilahirkan. Tetapi manusia bisa memilih, antara bergerak atau berdiam diri. Jika kita bergerak, kita akan mendapatkannya, tetapi jika memilih berdiam diri, maka waktu yang akan menguburkannya. Tak usahlah Kau takutkan tentang itu, kita memiliki Tuhan yang tidak tidur, Dia akan membalas apa saja yang dilakukan hambanya walau sekecil dzarroh. Dan untuk pendidikan, tetap akan Ku selesaikan, Kau tak perlu hawatirkan itu, Aku tau kapan waktu yang pas untuk Aku selesaikan, cukup Kau do'akan Aku saja, dan ingat apapun yang kita lakukan selama dalam kebaikan, insyaallah bernilai suatu ibadah jua". Begitulah jawabnya.
Ias hanya terdiam menikmati kata demi kata yang terucap dari bibir manis Dika, hingga terlihat air mata yang berada di kelopak matanya.
Cinta itu butuh perjuangan, karena disitu terdapat amanah Tuhan yang harus kita jalani dan kita pertanggung jawabkan dihadapannya. Maka, jangan sekali kita niatkan suatu "pernikahan" untuk di "permainkan", karena dengan begitu, kita telah melanggar amanah Tuhan yang diberikan pada kita. (Kira-kira begitu). Itulah mengapa, saya dan dia belum cukup meng'iya'kan untuk memilih ke jenjang pertunangan atau pelaminan. Insyaallah semua datang tepat waktu di waktu yang tepat.

Banyuwangi, 04 Januari 2019

Komentar