Dua tahun yang lalu, tepatnya Januari 2017 di tempat pelatihan kegiatan organisasi kita, seorang pria yang memiliki paras manis dengan serius dan tegas 'mengungkapkan' perasannya tepat di depan mataku. Aku dan dia kebetulan satu organisasi, jadi wajar kalau kita sering bertemu, hingga akhirnya 'benih-benih' cinta pun mulai tumbuh bersemi diantara kita. Dengan penuh keyakinan Ia mencoba menjelaskan apa yang Ia rasakan setelah mengenalku. Di genggamnya tanganku erat-erat, tanda Ia serius tentang perasaannya. Salah satu sahabatnya pun ada dengan kita, seakan menjadi 'saksi' atas apa terjadi hari itu. 

Seiring dengan derasnya hujan yang turun dari langit, Aku terdiam cukup malu mendengar apa yang Ia utarakan padaku. Meskipun beberapa bulan sebelum ini terjadi, Aku dan dia cukup sering jalan bersama walau hanya sekedar makan 'nasi bungkus dan kopi' untuk di nikmati. Tetapi hari itu, Aku benar-benar tersipu malu hingga tak bisa ku tahan lagi sikap 'salah tingkah' ku. 

Detik demi detik pun sudah berlalu terasa lama, Aku masih saja di hadapannya dengan mata yang masih tertuju padaku. Puluhan kata pun sudah terucap dari bibir manisnya, dan hingga membuatku 'melayang' bak seorang putri yang di cintai oleh putra raja. "Aku mau ngobrol serius sama Kamu, tapi plis kamu harus percaya, ini bukan 'modus' atau 'rayuan' yang seperti Kau katakan sebelum-sebelumnya. Mungkin kemarin-kemarin Aku belum serius tentang cinta, sampai Kau merasa tak ada keseriusan untuk itu. Tapi percayalah, hari ini Aku akan mengungkapkan tentang apa yang Aku benar serius padamu". Begitu yang Ia ucapkan padaku. Dengan perasaan yang tak karuan Ku rasakan lagi, Aku mencoba membalas ucapannya, meski tak bisa Ku sembunyikan lagi raut wajahku yang terlihat 'malu' untuk berkata-kata. Ku coba untuk memberanikan diri menatap wajah manisnya dan perlahan Ku mulai berucap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta untuk Ibu Mertuaku Tersayang

Bunga Dalam Bingkai Potret Polos