Gereja Di Pulau Seribu Pura
Gereja Di Pulau Seribu Pura
April 2017
tahun lalu, Aku pergi ke pulau yang letaknya tak jauh dari tanah
kelahiranku, Banyuwangi. Letaknya berada di sebelah timur kota yang berjuluk
Bumi Blambangan, yakni Pulau Bali. Disana Aku dan teman-temanku yang saat itu
sedang mengadakan observasi lapang karena salah satu tugas mata kuliah,
mengharuskan kami mengunjungi beberapa tempat yang banyak di gandrungi oleh
setiap orang yang pergi ke Pulau Dewata tersebut. Namun, dari semua pengalaman
perjalananku selama di Pulau Dewata, hanya satu yang menjadi pusat perhatianku
dan yang mampu mengalihkan fokus fikiranku yang semula terlalu asik menikmati
perjalanan kala itu berubah menjadi rasa keingintahuan yang begitu menggelora
di dalam hati.
Puja Mandala namanya, adalah tempat yang berhasil
menjadi pusat fikiranku ketika saat itu, yang disisi lain juga, Aku
memiliki tugas observasi disini. Puja
Mandala juga merupakan salah satu tempat yang dapat Ku ambil pelajaran dari
tempat ini. Tempat yang sangat menghargai toleransi, tempat yang dapat
menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia, dan juga tempat yang
mengimplementasikan ke-bhinnekaan. Bukan hanya sekedar tempat yang hanya
dikunjungi saja, namun lebih dari pada itu terdapat makna tersembunyi yang bisa
Ku simpulkan dari bangunan yang terletak di Nusa Dua ini. Bagaimana Aku tidak
kagum dan tidak teralihkan fokus fikiranku ketika pertama kali Aku
mengunjunginya? Dengan tegaknya bangunan yang sangat kuat dan kokoh di
hadapanku, yaitu berdirinya tempat ibadah berbagai macam keyakinan umat yang
dapat berdiri secara berdampingan dan saling menghargai satu sama lain walau
berada dalam satu complex.
Memang benar begitu adanya, 5 tempat ibadah berdiri
kokoh di Puja Mandala. Ada Masjid Ibnu Batutah, Gereja Kristen Bunda Maria
Segala Bangsa, Gereja Protestan Bukit Do'a, Vihara Budhina Guna dan Pura Agung
Jagat Nata. Akupun memulai perjalananku dari Masjid, sembari Aku menunaikan
kewajibanku kepada Sang Khaliq. Dan sesaat setelah Aku menunaikan ibadahku, Aku
pun melanjutkan perjalananku. Kali ini Aku menapakkan kakiku di Gereja Kristen
Bunda Maria Segala Bangsa (BMSB), yang letaknya persis di samping Masjid tempat
umat muslim menunaikan ibadah. Aku mulai memberanikan diri melangkahkan kakiku
ke tempat yang tidak terbiasa denganku ini dengan melawan rasa takut, khawatir,
bimbang dan perasaan lainnya yang timbul secara beriringan di benakku. Di
Gereja ini, Aku banyak menggali informasi terkait aspek historis bangunan dan
data-data yang nantinya akan Aku jadikan sebagai sumber data pada laporan
observasiku di Gereja tersebut. Aku mengitari setiap sudutnya, mengelilingi
luasnya tempat ibadah umat Christiany ini dengan berbagai macam perasaan yang
ku rasakan. Dan tanpa terasa, satu persatu pertanyaan mulai berdatangan di
benakku. Apakah Aku berdosa kala Aku sengaja mendatangi rumah ibadah umat
christiany ini? Dan saat Ku lihat gambar Tuhan mereka (Islam menyebutnya
dengan nabi Isa as), Aku pun kembali menanyakan pada diriku sendiri, Dan
apakah benar Ia akan turun saat hari akhir kelak tiba?. Pertanyaan-pertanyaan
yang cukup terbilang "silly question", namun itulah fakta
kebenarannya dan spontanitas yang Aku alami saat di Gereja Kristen BMSB ini.
Tetapi tidak Ku lontarkan pada siapapun, karena saat itu Aku masih terkesan
mengabaikan dan seakan tak peduli dengan pertanyaan itu.
Dengan kemauan yang begitu kuat bahwa Aku mendatangi
Gereja ini bukan untuk beribadah, melainkan hanya untuk menggali dan
mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya, maka Aku percaya dan Ku yakini
bahwa ini dalam keadaan baik-baik saja dan tidak akan menggoyahkan keyakinanku
padaNya sedikitpun. Detik demi detikpun telah Ku habiskan dengan menikamti
segala keindahan di Gereja ini, dan Ku nikamati setiap alunan cerita dari sang
informan, dengan sesekali Ku hadiahkan pertanyaan sederhana padanya sebagai
bentuk interaksi antara Aku dengannya dan untuk kebutuhan laporanku jua,
sembari Aku mencatat point-point yang Ku anggap penting di buku yang Ku pegang.
Setelah cukup lama berada di dalam Gereja Kristen BMSB ini, Aku dan
teman-temanku pun beralih ke Gereja Protestan Bukit Do'a, yang terletak di
samping Gereja Kristen BMSB. Di sini tak jauh beda yang ku lakukan dengan
Gereja Kristen BMSB.
Di Gereja Protestan Bukit Do'a ini, lagi dan lagi Ku
rasakan ke khawatiran dan ketakutan yang begitu kuat dari dalam hati. Entah
mengapa Aku semakin merasakan rasa khawatir dan takut yang semakin keras Ku
rasakan. Walau Aku sadar dan paham sebelumnya Aku telah mengunjungi Gereja
Kristen BMSB terlebih dahulu, tetapi rasa takut, khawatir, bimbang dan perasaan
tidak enak masih tetap bercampur jadi satu. Meski demikian, dengan dalih
tanggung jawab yang merupakan suatu tugas yang harus Aku kerjakan, Aku
memberanikan langkahku untuk terus mengelilingi setiap sudut Gereja ini. Dengan sedikit rasa gemetar pada tangan dan
tubuhku tetap Ku pegang erat buku dan bolpoint yang Ku gunakan untuk menulis
berbagai informasi dari informan yang
setia menemani Aku dan teman-temanku. Seketika itu, masih terlintas pertanyaan
pertanyaan di benakku, yang kala itu Aku masih tak bisa memahami apa yang
membedakan dari kedua Gereja ini. Apa cara mereka menyembah Tuhan lah yang
berbeda? Bagaimana untuk bisa membedakan dari kedua ini? Pertanyaan
pertanyaan ini sempat Aku tanyakan pada salah seorang temanku, dan Ia pun lekas
menjawabnya dengan jawaban yang cukup rasional menurutku, tetapi Aku tak berani
menanyakannya pada sang informan atas dasar "takut"
menyinggung hati dan perasaannya. Tetapi Aku masih tetap menanyakan beberapa
hal yang Ku anggap perlu untuk Ku tanyakan pada sang informan. Seiring dengan
datangnya pertanyaan yang ku ucapkan dan feedback yang di sampaikan oleh
informan, tak terasa perbincangan pun memakan waktu yang cukup lama, hingga
rasa lelah pun tak sanggup lagi Ku sembunyikan dari raut wajahku. Hanya saja, di Gereja Protestan Bukit Do'a
ini tak seramai seperti di Gereja Kristen BMSB, namun tetap ada beberapa umat
yang menjalankan ibadahnya. Walaupun demikian tak menghalangi Aku untuk tetap
mencari informasi dan data yang di butuhkan.
Iya, demikian adanya yang Ku alami, sedikit banyaknya
membantu membuatku menjadi lebih sadar akan arti persatuan dan toleransi
terhadap sesama. Bahwa dalam hidup dan dalam menjalaninya, bukan lagi untuk
membeda-bedakan suku, ras, budaya ataupun keyakinan yang dianut oleh manusia.
Tetapi persatuan dan kesatuan antar sesama adalah point penting yang harus
selalu di junjung tinggi dan terus diterapkan dalam aksi nyata. Disinilah salah
satu tempat yang memberikanku pengetahuan baru dalam sejarah hidupku selama
ini, Aku menemukan pelajaran yang berharga, pelajaran sederhana namun dampaknya
terasa begitu besar Ku rasakan hingga terasa sampai dalam hati kecilku. Meski
beberapa tempat ibadah berjejer dalam satu complex bangunan, namun tetap
berdiri tegak dan kokoh tanpa ada pertikaian sedikitpun terhadap sesama dan
saling menghargai satu sama lain. Tak jarang pula ketika salah satu umat
merayakan hari besar mereka, di tempat ini pun masih dan tetap pada
idealismenya, yakni menghargai apa yang dilakukan oleh umatnya dan tidak
menganggu aktivitas mereka. Dari hal kecil yang terlihat remeh tersebut,
terdapat makna tersirat yang dijelaskan oleh firmanNya dalam surat Al-Kafirun
yang artinya "bagimu agamamu dan bagiku agamaku". Sungguh,
begitu indah bagi setiap umat yang mampu memahami dan menghargai perbedaan.
Dari sini Aku belajar bahwa arti tersebut tak hanya diucapkan pada lisan saja,
namun disini memberikan contoh nyata dalam berdirinya tempat ibadah berbagai
macam umat yang dibangun dalam satu compleks. Pelajaran berharga yang menjadi
inspirasi bagi setiap insan yang sadar akan arti dan pentingnya toleransi dalam
beragama yang sesuai dengan nilai nilai Pancasila dan berpayungkan Bhinneka
Tunggal Ika.
Great job Mrs.Dona๐๐
BalasHapusBakat yang luar biasa
BalasHapus