Bunga Dalam Bingkai Potret Polos
Bunga
Dalam Bingkai Potret Polos
Kala senja mulai menampakkan wajahnya dihadapan semesta,
saat itu pula ku dengar suara handphone ku berdering di sudut kamar. Seketika
itupun Aku langsung mengangatnya. Ku dengar suara indah nan mendayu dari
seberang, yang sedang asik menawarkan dunia kerja padaku. Berbagai macam
perasaanpun datang menghampiri padaku. Bagaimana tidak, Aku yang tidak pernah
berada pada lingkungan luas kini harus Ku hadapi dalam hidupku. Satu persatu
pertanyaan pun mulai hadir di benak kepalaku, apakah Aku harus mengambil kesempatan
ini? Apakah Aku benar-benar yakin pada hal yang akan Aku sanggupi? Dan
Bagaimana jika Aku telah menyanggupi kesempatan itu? Tetapi, semua itu hanya
pertanyaan yang dapat terjawab apabila Aku telah melakukannya. Lantas, dengan
kesungguhan dan keyakinan hati, Akupun meng’iya’kan untuk mengambilnya.
Saat hari dimana kala pertama kali Aku menginjakkan kakiku,
tempat Aku menempa diri dan mengabdi, Ku
beranikan kaki ku terus melangkah menuju sekat-sekat ruang yang harus Aku pijakkan kakiku disana. Ya memang benar, rasa
malu, takut dan nervous datang secara beriringan. Seketika itu pun Aku berusaha
mengontrol rasa yang bercampur jadi satu dalam diriku, Ku coba melawan segala
perasaan yang hadir dalam pikirku dengan memberanikan diri untuk menyapa individu
satu ke individu yang lainnya. Hingga Aku berhasil memenangkan perasaan yang
timbul akibat ke-khawatiran diri saat itu.
Waktupun terus bergulir pada rotasinya, Aku diperkenalkan
pada segala hal yang belum pernah Aku tau sebelumnya. Aku menjelma bak seorang
anak kecil yang tidak tahu menahu terhadap sesuatu. Semua tentang ilmu dan
pengetahuan yang tidak pernah Ku jumpai di masa lalu hadir di depan wajahku.
Tamparan demi tamparan sempat ku rasakan, dan semua tentang sesuatu memaksaku
harus merelakan waktuku bersahabat dengannya. Diriku seakan seperti anak yang
lugu, polos dan harus di tuntun untuk terus melangkahkan kakinya, dan kala
terjatuh Ia harus bangkit dan berjalan seperti semula meski dengan langkah kaki
yang terbata.
Sampai detik ini Aku masih dan terus belajar dari satu hal
ke hal yang lainnya, Aku belajar memaknai apa yang terjadi dan apa yang
seharusnya di lakukan, Aku berguru pada pendahulu bagaimana cara mencari jalan
keluar pada tiap permasalahan, Aku berproses sesuai dengan keyakinan dan kesungguhan
hati. Ya, bukan lagi untuk hidupku saja, namun untuk keluarga, agama, bangsa
dan Tuhanku. Keberanian dan keyakinanku saat pertama kali Aku mengambil
kesempatan tersebut, telah membawaku dan banyak mengajarkanku bahwa hidup tak
hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk masyarakat luas dan hidup harus saling
berbagi satu sama lainnya. Berbagi yang tidak hanya berupa materi saja, lebih
dari itu berupa ilmu dan tenaga yang masih dalam nikmat sehatNya. Dan benar
bahwa dalam hidup, manusia memang dituntut untuk berlomba dalam kebaikan.
Al-Qur’an mengatakan “Fastabiqul Khairat”, dengan Firman ini jelas bahwa kita
selaku manusia haruslah melakukan kebaikan terus menerus, jangan menyerah
ataupun lelah pada tahap yang lebih baik. Bukankah kita hidup di dunia hanya
sekali? Lantas, apa yang akan kita tinggalkan pada generasi kita, kalau bukan
nilai-nilai kebaikan.
Setiap yang bernyawa punya jalan dan cara yang tentu berbeda
satu sama lain untuk menggapai tujuan mereka. Meski seperti itu, pada intinya
semua memiliki tujuan akhir yang sama yakni dapat mencapai tujuan dari apa yang
telah direncanakannya. Berbeda cara tak mengapa, berbeda jalan yang dilalui
juga tak ada masalah. Semua punya alasan tersendiri, tetapi yang terpenting
adalah tetap lakukan yang terbaik dan tanggung jawab atas pilihan tersebut.
Jika benar sungguh-sungguh, maka insyaallah tak akan mengecewakan hasil di masa
yang akan datang. Mari berlomba pada kebaikan, lakukan yang kita bisa, tekuni
segala kemampuan diri, dan terus asah semua daya potensi yang ada dalam diri.
Tetap pada jalan yang baik dan benar, karena semua itu tidak akan menyesatkan
pada lubang yang dalam.
Inilah jalan yang Aku pilih, jalan yang Aku yakini bahwa Aku
berada pada jalur yang benar, jalan yang telah mengajarkanku bagaimana hidup
itu seharusnya, jalan yang telah memberikanku keindahan-keindahan pada tiap
momentnya, yang dengan kerikil dan batunya selalu ada pada tiap tahapnya. Hanya
ikhtiar dan do’a pengharapan pada Ilahi yang dapat membantu mempermudah jalan
yang ku lalui dengan keyakinan dan kesungguhan hati, semoga Tuhan senantiasa
memberikan ridho pada setiap langkah baik kita, ukir sejarah baik dalam hidup,
semoga kita semua tak hanya menjadi seongok daging yang hanya punya nama di
semestaNya. Amiin.
Komentar
Posting Komentar