Tolak Tambang Emas Gunung Salakan
Pada pertengahan bulan, tepatnya tanggal 18-19 Januari sengaja Saya berkunjung ke Dusun Pancer dan bermalam disana untuk bertemu dengan warga sekitar yang melakukan penolakan pertambangan di Gunung Salakan dan sekitarnya.
Seperti yang Saya ketahui bahwa pada awal bulan Januari 06/01/2020 warga mendirikan tenda perjuangan sebagai bentuk aksi nyata warga menolak adanya tambang emas yang rencana akan dilakukan di Gunung Salakan dan sekitarnya. Tenda di dirikan setelah sebelumnya pihak PT. BSI dan gabungan peneliti dari Universitas Trisakti ingin masuk ke Gunung Salakan dan Gunung Lompongan untuk meneliti kandungan mineral yang berada di gunung tersebut.
Gunung Salakan dan Gunung Lompongan memang sangat dekat dengan Gunung Tumpang Pitu yang saat ini sedang di tambang. Sudah banyak dampak negative yang dirasakan oleh masyarakat sekitar Gunung Tumpang Pitu dan Dusun Pancer atas adanya pertambangan emas yang sedang terjadi. Mereka merasakan kekeringan yang sudah mulai mengancam, sulit mendapatkan air bersih, para nelayan mulai kesulitan untuk mendapatkan ikan, hingga pelaku pariwisata di area Pulau Merah dan Pantai Mustika Pancer yang merasakan terdapat perubahan drastis pada pantai . Hal ini jelas sangat merugikan warga sekitar secara materi . Bagaimana tidak, yang semula mudah mendapatkan air bersih, kini sulit untuk mengonsumsi. Yang semula para nelayan mudah untuk berburu ikan di laut , kini harus bergelut lebih keras lagi dengan arus ombak yang mungkin membahayakan nyawanya. Begitu juga dengan pelaku pariwisata yang juga merasakan kemunduran pengunjung saat kondisi laut sedang tidak baik baik saja akibat limbah dari tambang emas tersebut.
Dengan banyaknya dampak negative yang masyarakat daerah Tumpang Pitu dan Dusun Pancer rasakan akibat adanya pertambangan emas , mereka menjadi lebih tau dan paham, bahwa mereka tidak boleh diam melawan ketertindasan . Mereka banyak belajar dari peristiwa Tumpang Pitu , belajar dari kehidupan yang mereka hadapi setiap hari. Tentu, mereka tidak akan membiarkan Gunung Salakan dan Gunung Lompongan menjadi sasaran manis PT. BSI dan PT. DSI . Mereka bangkit dan melawan para elit politik serta korporat, untuk mempertahankan tempat tinggal mereka dari rakusnya manusia yang hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa memikirkan nasib rakyat yang tak berdosa .
Dengan banyaknya dampak negative yang masyarakat daerah Tumpang Pitu dan Dusun Pancer rasakan akibat adanya pertambangan emas , mereka menjadi lebih tau dan paham, bahwa mereka tidak boleh diam melawan ketertindasan . Mereka banyak belajar dari peristiwa Tumpang Pitu , belajar dari kehidupan yang mereka hadapi setiap hari. Tentu, mereka tidak akan membiarkan Gunung Salakan dan Gunung Lompongan menjadi sasaran manis PT. BSI dan PT. DSI . Mereka bangkit dan melawan para elit politik serta korporat, untuk mempertahankan tempat tinggal mereka dari rakusnya manusia yang hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa memikirkan nasib rakyat yang tak berdosa .
Dan saat malam itu, Saya menghabiskan beberapa waktu untuk belajar bersama anak - anak Dusun Pancer yang saat itu mereka berada pada tenda perjuangan, dan kemudian saya lanjut ngobrol dengan beberapa warga di bawah tenda dengan dinginnya angin laut.
"Sudah seharusnya pemerintah mendengar dan bergerak pada keadilan yang berpihak pada rakyat, bukan pada korporasi yang sejatinya menindas rakyat bahkan mengancam nyawa rakyat sekitar. Saya kecewa terhadap sikap pemerintah yang seolah tak mendengar suara rakyat. Saya tak pernah berpikir dalam diri saya bahwa lingkungan tempat saya tinggal sedari kecil akan seperti ini. Saya tidak menuntut apa - apa, saya tidak meminta apa - apa, hanya satu yang saya pinta, jangan tambang emas di gunung salakan dan sekitarnya. Cukup Gunung Tumpang Pitu saja sudah yang habis karena ulah korporat, jangan gunung - gunung sekitar. Sebab disitulah tempat masyarakat Dusun Pancer mencari nafkah untuk keluarganya, tempat masyarakat berlindung ketika gempa dan mungkin bahkan jika terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan (seperti tsunami). Anak - anak masih kecil, perjalanan mereka masih panjang, bagaimana jadinya jika tempat kami di tambang dan kami akan terusir dari tanah kami sendiri". Begitu tutur Pak Adin, sembari berkaca - kaca di matanya menandakan bagaimana hancurnya perasaan atas kejadian tambang tersebut.
Memang seharusnya,tambang emas di area Pantai Selatan tidak dilakukan. Hal ini bersebab karena Pantai Selatan Banyuwangi ditetapkan sebagai salah satu wilayah yang rawan bencana. Oleh karena itu Gunung Tumpang Pitu menyandang status sebagai hutan lindung, yang mana hutan lindung tidak boleh dilakukan pertambangan atau perusakan pada hutan lindung, guna untuk mencegah potensi bencana yang akan datang. Namun sangat disayangkan , status hutan lindung pada Gunung Tumpang Pitu justru dialihfungsikan menjadi hutan produksi. Hal ini pun sontak menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat sekitar, masyarakat dengan aparat kepolisian dan juga menambah rasa kecewa dan marah pada korporat .
Hingga sampai detik ini, di hari ke 23 warga Dusun Pancer masih setia berada pada posko perjuangan. Masih setia melakukan perlawanan, dan masih berjuang untuk menuntut keadilan yang seadil - adilnya. Mereka ikhlas melakukan perlawanan dan silih berganti mereka menjaga posko perjuangan mereka. Berbagai upaya pun sudah mereka lakukan, mulai dari aksi melawan PT. BSI , istigostah bersama dan berbagai acara keagamaan menurut keyakinan mereka masing - masing.
Bagi mereka harga diri adalah yang utama, tempat tinggal mereka adalah harta yang tak ternilai dan tak bisa ditukar dengan angka persenan. Mereka masih menjerit, mereka masih bergerak, mereka masih melawan dan mereka tidak akan pernah tunduk terhadap penindasan. Mereka masih dan akan tetap berjuang hingga kemenangan berpihak pada rakyat . Hingga tak mereka dapati kembali tetes air mata kesedihan dan kekecewaan.
Hingga sampai detik ini, di hari ke 23 warga Dusun Pancer masih setia berada pada posko perjuangan. Masih setia melakukan perlawanan, dan masih berjuang untuk menuntut keadilan yang seadil - adilnya. Mereka ikhlas melakukan perlawanan dan silih berganti mereka menjaga posko perjuangan mereka. Berbagai upaya pun sudah mereka lakukan, mulai dari aksi melawan PT. BSI , istigostah bersama dan berbagai acara keagamaan menurut keyakinan mereka masing - masing.
Bagi mereka harga diri adalah yang utama, tempat tinggal mereka adalah harta yang tak ternilai dan tak bisa ditukar dengan angka persenan. Mereka masih menjerit, mereka masih bergerak, mereka masih melawan dan mereka tidak akan pernah tunduk terhadap penindasan. Mereka masih dan akan tetap berjuang hingga kemenangan berpihak pada rakyat . Hingga tak mereka dapati kembali tetes air mata kesedihan dan kekecewaan.

Komentar
Posting Komentar